BANJIR, BANJIR BANDANG, DAN TANAH LONGSOR

PROVINSI ACEH, SUMATERA UTARA, DAN SUMATERA BARAT
Laporan Situasi Indonesia Humanitarian Coordination Platform (IHCP) # 4

sorotan

Laporan ini disusun dan diterbitkan oleh Platform Koordinasi Kemanusiaan Indonesia. Laporan ini mencakup periode 10 hingga 12 Desember. Laporan berikutnya akan diterbitkan pada atau sekitar 16 Desember.

Jumlah Korban

Jumlah korban tewas telah mencapai 990 dan 222 orang hilang di 52 kabupaten/kota terdampak di tiga provinsi tersebut.

TOTAL PENGUNGSI

Per 11 Desember BNPB melaporkan jumlah pengungsi telah berkurang menjadi 884.889 orang. Jumlah terbanyak di Aceh sebesar 816.742 orang, di Sumatra Utara 53.523 orang, dan di Sumatra Barat 13.624

Sektor Kesehatan

Di sektor kesehatan, Kementerian Kesehatan melaporkan fasilitas kesehatan yang belum beroperasi per 12 Desember di Aceh adalah tiga rumah sakit swasta dan 38 puskemas; di Sumatra Utara 1 RSUD dan tiga tiga puskesmas. Sedangkan di Sumatra Barat seluruh fasilitas kesehatan telah berfungsi. Penyakit yang banyak diderita pengungsi di Aceh adalah ISPA (5.286 orang) dan penyakit kulit (4.583). Di Sumatra Utara penyakit kulit (7.666 orang) dan ISPA (6.492 orang). Di Sumatra Barat ISPA (1.071 orang) dan hipertensi (442 orang).

Sektor Pendidikan

Di sektor pendidikan dilaporkan per 12 Desember bencana di tiga provinsi tersebut berdampak pada 3.097 satuan pendidikan, 270.421 peserta didik, dan 25.331 guru.

Orang meninggal (BNPB)
Orang Hilang (BNPB)
K+
Orang Pengungsi (BNPB)
K
Rumah rusak (BNPB)

Update Situasi: Penanganan Bencana Sumatera Memasuki Perencanaan Hunian Sementara (12 Desember 2025)

Platform Koordinasi Kemanusiaan Indonesia (IHCP) merilis Laporan Situasi (Sitrep) Nomor 4 yang mencakup periode 10 hingga 12 Desember 2025 terkait penanganan bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Fokus saat ini mulai bergeser dari tanggap darurat awal menuju pemusatan titik pengungsian dan perencanaan hunian sementara (huntara).

Perkembangan Dampak dan Kondisi Pengungsi

Data terbaru menunjukkan tren penurunan jumlah pengungsi, namun dampak kerusakan tetap masif:

  • Korban Jiwa: Hingga 11 Desember, tercatat 990 orang meninggal dunia dan 222 orang masih hilang di 52 kabupaten/kota terdampak.
  • Pengungsi: Jumlah pengungsi telah berkurang menjadi 884.889 orang. Mayoritas berada di Aceh (816.742 jiwa), diikuti Sumatera Utara (53.523 jiwa), dan Sumatera Barat (13.624 jiwa).
  • Kerusakan Infrastruktur: Sebanyak 158.000 rumah dilaporkan rusak. Selain itu, kerusakan menimpa 1.200 fasilitas umum, termasuk 498 jembatan dan 219 fasilitas kesehatan.
  • Sektor Pendidikan: Bencana ini berdampak pada 3.097 satuan pendidikan, yang melibatkan lebih dari 270.000 peserta didik dan 25.000 guru.

Situasi Kesehatan dan Layanan Publik

Masalah kesehatan di pengungsian menjadi perhatian utama karena munculnya berbagai penyakit:

  • Di Aceh, penyakit yang paling banyak diderita pengungsi adalah ISPA (5.286 orang) dan penyakit kulit (4.583 orang).
  • Di Sumatera Utara, penyakit kulit mendominasi (7.666 orang) diikuti ISPA (6.492 orang).
  • Di Sumatera Barat, fasilitas kesehatan dilaporkan telah berfungsi seluruhnya, sementara di Aceh dan Sumatera Utara beberapa rumah sakit dan puskesmas masih belum beroperasi.

Layanan publik seperti telekomunikasi dan air bersih masih dalam tahap pemulihan. Sekitar 66,99% BTS di 22 kabupaten/kota di Aceh masih terdampak kendala transmisi dan kegagalan daya. Layanan PDAM di 14 dari 18 kabupaten di Aceh juga masih mengalami gangguan.

Langkah Respons dan Strategi Pemulihan

Pemerintah daerah di ketiga provinsi telah memperpanjang status tanggap darurat: Aceh hingga 25 Desember, Sumatera Utara hingga 24 Desember, dan Sumatera Barat hingga 22 Desember.

  1. Pemusatan Pengungsian: Pemerintah berupaya membangun titik pengungsian terpusat di setiap kecamatan yang dilengkapi dengan dapur umum, sekolah darurat, dan layanan psikososial untuk memudahkan distribusi bantuan.
  2. Perencanaan Huntara: Rencana pembangunan hunian sementara (huntara) mulai disusun dengan durasi pembangunan sekitar 2 hingga 4 bulan. Beberapa wilayah seperti Aceh Tengah, Pidie, Humbang Hasundutan, dan lima kabupaten/kota di Sumatera Barat telah menyampaikan rencana kebutuhan unit huntara mereka.
  3. Distribusi Logistik: Bantuan logistik terus dikirimkan melalui jalur udara dan darat. Di Aceh saja, bantuan yang masuk telah mencapai 498,7 ton, dengan distribusi yang terus berlangsung menggunakan helikopter dan truk.

Kebutuhan Mendesak

Klaster Logistik mengidentifikasi kebutuhan alat berat (ekskavator, beko), unit pengolah air bersih, perahu karet, dan genset sebagai prioritas. Bagi para pengungsi, bantuan yang sangat dibutuhkan mencakup makanan bayi, perlengkapan ibadah, kebutuhan khusus perempuan (hygiene kits), serta obat-obatan seperti profilaksis malaria dan vaksin tetanus.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Sekretariat IHCP

Ignacio Romero, Lab Lokalisasi Indonesia, romero@pujionocentre.org, Telp: +62 878 6164 8312
Disya Marianty, Lab Lokalisasi Indonesia, disya@pujionocentre.org, Telp: +62 857 0694 2247
Dimas Perdana, Yayasan Lokadaya, dimas.perdana@lokadaya.id, Telp: +62 812 2674 3399