BANJIR, BANJIR BANDANG, DAN TANAH LONGSOR
sorotan
Laporan ini disusun dan diterbitkan oleh Platform Koordinasi Kemanusiaan Indonesia. Laporan ini mencakup periode 4 hingga 8 Desember. Laporan berikutnya akan diterbitkan pada atau sekitar 12 Desember.

Update Situasi: Korban Jiwa Banjir dan Longsor Sumatera Capai 1.155 Orang (9 Desember 2025)
Platform Koordinasi Kemanusiaan Indonesia (IHCP) merilis Laporan Situasi (Sitrep) Nomor 3 yang mencakup perkembangan penanganan bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Laporan ini mencakup periode pemantauan dari tanggal 9 hingga 11 Desember 2025.
Perkembangan Dampak Korban dan Pengungsi
Hingga 9 Desember 2025, skala dampak bencana terus meningkat secara signifikan. Berikut adalah data terbaru yang dihimpun oleh BNPB:
- Korban Jiwa: Total warga yang meninggal dunia mencapai 1.155 orang.
- Warga Hilang: Sebanyak 521 orang masih dalam pencarian.
- Korban Luka: Tercatat 3.421 orang mengalami luka-luka.
- Pengungsi: Jumlah pengungsi melonjak tajam menjadi 1.144.372 jiwa. Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Provinsi Aceh dengan 1.050.563 jiwa, diikuti oleh Sumatera Utara sebanyak 52.327 jiwa, dan Sumatera Barat sebanyak 41.482 jiwa.
- Kerusakan Rumah: Sebanyak 68.423 unit rumah dilaporkan rusak di Aceh dan Sumatera Barat.
Kunjungan Presiden dan Status Darurat
Presiden Prabowo Subianto kembali mengunjungi wilayah terdampak, tepatnya di Kota Medan pada 8 Desember 2025, untuk memimpin rapat koordinasi penanganan darurat. Meski dampak bencana sangat luas, pemerintah sejauh ini menilai status tanggap darurat yang ditetapkan oleh masing-masing gubernur masih mencukupi dan belum menetapkan keadaan darurat nasional.
Kondisi Lapangan dan Aksesibilitas
Situasi banjir di beberapa wilayah seperti Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya mulai surut, namun genangan baru dilaporkan muncul di Aceh Singkil dan Nagan Raya. Beberapa jalur transportasi masih lumpuh, di antaranya:
- Jembatan Meureudu di Pidie Jaya masih putus total.
- Akses jalan nasional Takengon – Gayo Lues dan Gayo Lues – Aceh Tenggara belum dapat dilalui akibat longsor.
- Krisis pangan memicu laporan terjadinya penjarahan di beberapa titik akibat bantuan yang belum merata.
Isu Kesehatan dan Perlindungan
Kondisi di pengungsian mulai memicu masalah kesehatan serius. Penyakit gatal-gatal (kulit) dan diare mulai mewabah akibat terbatasnya akses air bersih. Selain itu, dibutuhkan dukungan psikososial segera bagi anak-anak dan keluarga yang terdampak. Sub-klaster perlindungan juga mencatat perlunya penguatan penanganan kekerasan berbasis gender dan pemenuhan kebutuhan khusus bagi penyandang disabilitas di tenda pengungsian.
Respons Penanganan Darurat
- Operasi Modifikasi Cuaca (OMC): Masih terus dilakukan dengan total 29 sorti di Aceh dan 28 sorti di Sumatera Utara untuk mengurangi intensitas hujan selama masa pembersihan jalur transportasi.
- Logistik Udara: Sebanyak 50 unit helikopter direncanakan untuk mobilisasi bantuan. Saat ini, 7 helikopter telah beroperasi di Aceh dan 3 di Sumatera Utara.
- Dukungan Non-Pemerintah: Sebanyak 191 organisasi dengan 7.350 relawan telah terpetakan memberikan bantuan di lapangan. PMI telah mengoperasikan unit pengolah air dan truk tangki untuk memenuhi kebutuhan air minum warga.
- Sektor Swasta: Bantuan terus mengalir melalui layanan pengiriman gratis dari PT Pos Indonesia dan JNE, serta dukungan paket komunikasi siaga dari Telkomsel.
Kebutuhan Mendesak
Kebutuhan yang paling mendesak saat ini meliputi alat berat (ekskavator), unit pengolah air bersih, perahu karet, genset, serta perlengkapan khusus perempuan dan bayi (makanan bayi, hygiene kits). Dari sisi medis, dibutuhkan tambahan stok obat-obatan dasar, vaksin tetanus, dan profilaksis malaria.
